Pemilu Polesan Bibir Madu beracun

kampanyebaris2Malam itu udara di tempat tinggalku dinging sekali, maklum di iringi dengan tarian hujan di langit yang terus bercumbu dengan bumi. Seperti biasanya sunnatullah hujan terjadi setiap enam bulan, dengan malas kucoba mencari sedikit hiburan dengan membuka channel stasiun TV, eh ternyata isinya kampanye partai dan para politikus yang gencar melakukan kampanye di beberapa kota besar di Indonesia.

Ada beberapa yang stagnan di dalam pemilu sekarang ini:

  1. Melakukan Orasi Politik di depan para penudukungnya dan di elipi dengan para artis-artis. Para politikus dengan manisnya berorasi dengan mulut berbusa di depan ribuan pendukungnya. Isi orasi tersebut hanya sebuah janji-janji dan hebatnya lagi merayu para pendukungnya dengan harapan menyontreng partainya dan dirinya.
  2. Pelanggaran kampanye dengan membawa anak kecil dan pelanggaran lalu lintas. Anak kecil ikut berkampanye menurut benak saya bukan pendidikan politik melainkan perusakan kebebesan anak dalam mendidik sebuah demokrasi.
  3. Politikus negeri ini melakukan Arisan layaknya para ibu-ibu RT. Kejadian ini juga dilakukan pada pemilu 2004 yang lalu. Hampir saat kampanye terbuka di buka oleh KPU para petinggi partai melakukan kunjungan di kebeberapa orang yang dianggap banyak pendukungnya. Kalau ditanya oleh beberapa wartawan apakah aktivitas itu berkampanye mereka menjawab saya hanya melakukan “silaturrahim saja kok mas” dasar memang politikus ya bisa mengilak.

Pemilu sebenarnya sebagai implementasi dari sebuah demokrasi. Jika demokrasi sering dilakukan dengan polesan para bibir madu beracun bagaimana Negeriku ini kedepannya?

Seandainya para politikus nantinya mengerjakan semua dari dua dibawah ini, saya yakin negeriku ini akan berwibawa dan rakyat akan makmur. Pertama: mengakhiri atau memutus ketergantungan terhadap modal dan pasar. Kedua: kepercayaan buta terhadap mekanisme pasar dan neo-liberalisme yang merajalela dalam tata kelola ekonomi Indonesia harus dilenyapkan dan harus diganti dengan pemikiran dan kebijakan yang berpihak pada rakyat dan kesejahteraan.

Malam semakin larut, mataku sudah tidak bisa di ajak kompromi lagi maklum kerja seharian, lalu aku mematikan TV kemudian bantalku di taruk di bawah kepalaku dengan membaca do’a “Bismika Ahya Wa Bismika Amutu….. aku terlelap dengan tidurku.

gambar di ambil disini

3 Balasan ke Pemilu Polesan Bibir Madu beracun

  1. yainal mengatakan:

    jadi ingat lagu lama.. madu di tangan kananmu, racun di tangan kirimu.. hehehe..

    *yang tengah apa ya?

    Luthfi

    Kalo nanya yang Tengah-tengah Itu tergantung setiap orang yang penafsirkan, menurut ku yang terngah itu dada. hehehhehe

  2. thejackpiano mengatakan:

    “Bismika Ahya Wa Bismika Amutu juga

  3. Yep mengatakan:

    Ya tidur deh….😀

    Luthfi:

    waduh tidur ya bertemu mimpi deck. hehehhe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: