Banyak Jalan Menuju Roma! Banyak Cara Analisis Media Massa

fotoblog1Ada banyak metode dan analisis media dalam penelitian komunikasi yang khususnya berkaitan dengan media konvensional maupun media pers mahasiswa. Beberapa definisi dalam menganalisis isi media antara lain, sebagai metode pembelajaran dan menganalisa komunikasi secara sistematis, secara objektif, dan bersifat kuantitatif. Adapun beberapa alternatif dalam menganalisa (terutama teks) media, yakni analisis wacana, hermeneotik, semiotika, dan analisis isi.

Seorang wartawan dalam penyampaikan suatu isu beranika ragam dalam menentukan suatu anglenya. Oleh sebab itu pulalah berita yang disampaikan kepada pembaca jauh berbeda walaupun satu isu dan satu fokus. Memang ulasan atas suatu peristiwa yang disampaikan wartawan atau media massa tidak terlepas dari unsure-unsur yang baku yaitu 5 W + 1 H. akan tetapi, yang banyak di tekaknkan oleh wartawan biasanya unsure “why” mengapa? Dan “how” bagaimana? yang di telusuri apalagi dalam jurnalistik investigative.

Dalam sebuah media, paling tidak dua hal yang terpenting 1) fakta, ini disajikan dalam bentuk berita walaupun dalam pemberitaannya kadang sangat subjektivitasnya tinggi. 2) opini, ini di tampilkan dalam bentuk karikatur, tajuk, surat pembaca, kolom, surat pembaca dan artikel.

Kembali ke pokok bahasan, dalam menganalisis media massa ada tiga yang sering di lakukan oleh banyak peneliti alias analis media yaitu:

  1. Positivisme-empiris. Menurut mereka, analisis wacana menggambarkan tata aturan kalimat, bahasa, dan pengertian bersama. Wacana diukur dengan pertimbangan kebenaran atau ketidakbenaran menurut sintaksis dan semantik (titik perhatian didasarkan pada benar tidaknya bahasa secara gramatikal) analisis ini dinamakan “Analisis Isi”(kuantitatif)
  2. Konstruktivisme. Bias juga disebut analisis wacana sebagai suatu analisis untuk membongkar maksud-maksud dan makna-makna tertentu. Wacana adalah suatu upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari sang subyek yang mengemukakan suatu pertanyaan. Pengungkapan dilakukan dengan menempatkan diri pada posisi sang pembicara dengan penafsiran mengikuti struktur makna dari sang pembicara. Analisis ini biasa disebut “Analisis Framing” (bingkai)
  3. Paradigma kritis. mengoreksi pandangan konstruktivitis yang tidak sensitif terhadap proses produkski dan reproduksi makna. Bahasa dipahami sebagai representasi yang berperan membentuk subyek tertentu, tema wacana tertentu, dan strategi di dalamnya. Bahasa selalu terlibat dalam hubungan kekuasaan.

Dalam kesempatan ini saya lebih mefokuskan ke analisis framing, Hal yang membedakan analisis framing dengan analisis isi kuantitatif dan analisis paradigma kritis, antara lain:

  1. Analisis Framing lebih bersifat kualitatif dibandingkan dengan analisis isi yang umumnya bersifat kuantitatif. Analisis framing menekankan pada pemaknaan teks daripada penjumlahan unit kategori seperti dalam analisis isi. Dasar yang dipakai adalah interpretasi, karena analisis framing merupakan bagian dari metode interpretative yang mengandalkan interpretasi dan penafsiran peneliti.
  2. Analisis isi kuantitatif umumnya membedah muatan teks komunikasi yang bersifat nyata, sedangkan analisis framing berpretensi memfokuskan pada pesan yang tersembunyi. Proses pemaknaan suatu pesan tidak hanya bisa hanya menafsirkan apa yang tampak nyata dalam teks, namun harus menganalisis dari makna yang tersembunyi. Pretensi analisis wacana adalah pada muatan, nuansa, dan makna yang laten dalam teks media. Unsur penting dalam analisis framing adalah penafsiran dimana tanda dan elemen yang ada dalam teks ditafsirkan secara mendalam oleh peneliti, sebagai sesuatu yang tidak terdapat dalam analisis isi kuantitatif dan analisis pragmatis.
  3. Analisis isi kuantitatif hanya mempertimbangkan ‘apa yang dikatakan’, tetapi tidak dapat menyelidiki ‘bagaimana ia dikatakan’. Dengan demikian, analisis framing tidak hanya bergerak dalam level makro (isi dari suatu teks), namun juga bergerak dalam level mikro dalam penyusunan sustu teks, seperti kata, kalimat, ekspresi, dan retoris.
  4. Analisis framing tidak berpretensi melakukan generalisasi. Penekanan analisis framing adalah bentuk interaksi. Berita berfungsi sebagai suatu pernyataaan, pertanyaan, tuduhan, atau ancaman. Bahkan dapat mendiskriminasi atau mempersuasi orang lain.
  5. Analisis framing termasuk dalam pendekatan konstruksionis, dimana ada 2 karakteristik penting, yakni proses pemaknaan dan penggambaran tentang suatu realitas (secara aktif), dan kedinamisan dalam proses kegiatan komunikasi.

Elemen-elemen struktur wacana antara lain (menurut van Dijk), Tematik (apa yang dikatakan), Skematik (bagaimana pendapat disusun dan dirangkai), Semantik ( makna yang ingin ditekankan), Sintaksis (bagaimana pendapat disampaikan), Stilistik (pilihan kata apa yang dipakai), dan Retoris (bagaimana dan dengan cara apa penekanan dilakukan).

Pada kesimpulannya, menganalisis isi media dan analisis pragmatis dengan analisis framing lebih menekankan pada kedinamisan membuat penelitian dan penggambaran dari suatu teks berita dan pada akhirnya memberikan suatu pemaknaan secara lebih mendalam.

Cara Tepat dalam Memulai Analisis Media Massa

  • Periksa fakta yang dibeberkan media, lakukan koreksi bila tidak valid
  • Perhatikan struktur penyajian fakta, lakukan kritik kronologis atau spatiologis atau hubungan sebab akibat.
  • Teliti interpretasi atau konklusi yang ingin diarahkan media, mendukung atau membantah argumentasi yang tersembunyi.
  • Ungkap sisi atau perspektif lain, tawarkan konteks baru untuk menyajikan fakta atau menangkap pemahaman atas fakta

Terakhir bagaimana kita menganalisis media massa dari sudut mana, terpenting lagi kemampuan kita sendiri dalam menganalisis suatu media massa. Bukan begitu kawan-kawan blogger?

7 Balasan ke Banyak Jalan Menuju Roma! Banyak Cara Analisis Media Massa

  1. David mengatakan:

    MENGGUGAT PUTUSAN SESAT HAKIM BEJAT

    Putusan PN. Jkt. Pst No.Put.G/2000/PN.Jkt.Pst membatalkan Klausula Baku yang digunakan Pelaku Usaha. Putusan ini telah dijadikan yurisprudensi.
    Sebaliknya, putusan PN Surakarta No.13/Pdt.G/2006/PN.Ska justru menggunakan Klausula Baku untuk menolak gugatan. Padahal di samping tidak memiliki Seritifikat Jaminan Fidusia, Pelaku Usaha/Tergugat (PT. Tunas Financindo Sarana) terindikasi melakukan suap di Polda Jateng.
    Ajaib. Di zaman terbuka ini masih ada saja hakim yang berlagak ‘bodoh’, lalu seenaknya membodohi dan menyesatkan masyarakat, sambil berlindung di bawah ‘dokumen dan rahasia negara’.
    Statemen “Hukum negara Indonesia berdiri diatas pondasi suap” (KAI) dan “Ratusan rekening liar terbanyak dimiliki oknum-oknum MA” (KPK); adalah bukti nyata moral sebagian hakim negara ini sudah terlampau sesat dan bejat. Dan nekatnya hakim bejat ini menyesatkan masyarakat konsumen Indonesia ini tentu berdasarkan asumsi bahwa masyarakat akan “trimo” terhadap putusan tersebut.
    Keadaan ini tentu tidak boleh dibiarkan saja. Masyarakat konsumen yang sangat dirugikan mestinya mengajukan “Perlawanan Pihak Ketiga” untuk menelanjangi kebusukan peradilan ini.
    Siapa yang akan mulai??

    David
    HP. (0274)9345675

    Luthfi:

    saya ucapkan banyak terima kasih bung david telah berkunjung ke blog saya.
    kalo di tanya siapa yang akan mulai? menurut pendapat peribadi saya, ya masyarakat indonesia harus ikut aktif berperan serta mencegak itu, karena tanpa monitoring dari masyarakat penegakan hukum di indonesia mustahil akan beres

  2. bahrun ali murtopo mengatakan:

    mendia itu sulit di tebak dalam bergerakmedia raja nya dunia.di mana media yang di beritakan tidak penuh kejujuran ada berapa hal yang di simpan ,kaera dimi kebaikan atau ke aman . hal ini yang man di pake oleh seorang mediator untuk publik apa untuk pribadi ….

  3. El-Farasy mengatakan:

    mohon bantuan… saya jurusan pendidikan bahasa inggris, tapi mengambil skripsi linguistik meski nggak ngerti sama sekali tentang AWK (analisis wacana kritis) yang rencananya saya ambil. saya punya target untuk menganalisis salah satu media untuk membeberkan kebenarannya, bukan kesalahannya…
    apakah saya salh pilih AWK, atau harus diganti menjadi analisis isi saja?
    demikian, terimakasih sangat

  4. yossy suparyo mengatakan:

    Terimakasih lutfie atas tulisan ini, inspiratif.

  5. luthfi mengatakan:

    Terima kasih kembali…

  6. Abdurrahman mengatakan:

    Makasih sob, udah sharing ilmunya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: